Friday, August 8, 2014

Preview Championship 2014 / 2015: Let's See What You Got, Bowyer !

Background

Musim lalu adalah musim yang cukup baik bagi Rovers karena menempati peringkat 8 di klasemen Championship, dan hanya terpaut 2 poin dari tiket playoff yang diraih Brighton & Hove Albion di peringkat 6. Saat awal musim Gary Bowyer (Manager Rovers) , menggaet beberapa nama baru secara gratis seperti Chris Taylor dari Oldham , Alan Judge dari Notts County , Simon Eastwood dari Portsmouth, Dudley Junior Campbell dari QPR, Matthew Killgalon dari Sunderland, Yann Songo’o dari Sporting Kansas City, Aaron Tumwa dari Watford dan Tommy Spurr dari Doncaster. Bowyer juga menggaet Corry Evans (Hull) , Devarn Green (Burton), Ben Marshall (Leicester) dan Connor Mahoney (Accrington) dengan nilai transfer yang tidak disebutkan (undisclosed). Serta melepas Nuno Gomes (End of Career), Morten Gamst Pedersen (Karabukspor->Rosenborg) , dan Gael Givet (Arles Avignon) secara gratis.

Di 3 pertandingan awal, Rovers berada di posisi 22 di zona degradasi. Tapi 3 pertandingan selanjutnya, Rovers langsung naik ke posisi 10. Secara simultan mereka naik turun di antara posisi 8-14 sampai akhir matchday mereka memantapkan posisi di peringkat 8 dengan 70 poin. Yang menarik, dari matchday 35-46 mereka tidak pernah kalah dengan 6 kali kemenangan dan 6 kali seri. Rekor ini masih bisa berlanjut jika mereka bisa menahan atau mengalahkan Cardiff City di laga pembuka Skybet Championship 2014/2015 (Sabtu, 9 Agustus 2014: 01.45 WIB).  


Transfer

Tidak seperti awal musim lalu, di awal musim ini Bowyer hanya mendatangkan Luke Varney (Leeds United) dan Chris Brown (Doncaster Rovers). Dan meminjam jasa bek kanan Bolton yaitu Alex John-Baptiste selama semusim. Untuk menyeimbangkan gaji pemain dan transfer budget, Bowyer melepas David Goodwillie ke Aberdeen, Dickson Etuhu (Free Agent) , Alan Judge ke Brentford, dan Ryan Edwards ke Morecambe. Selain itu, Bowyer juga berniat menjual Leon Best dan DJ Campbell. 

Bersiap lunasi hutang lewat gaji pemain
Beberapa pemain juga akan dipangkas gajinya, seperti Leon Best yang mendapat gaji £ 35.000 / minggu karena Rovers merugi £ 2.000.000 / Bulan selama musim 2013/2014. Venky's (Owner Blackburn Rovers) akan bekerja keras untuk melunasi hutang yang menumpuk setelah terdegradasi dari Premier League. Di musim baru ini, Venkys berharap Bowyer bisa mengelola gaji pemain lebih baik dari musim kemarin. 

Key Players

Di bawah mistar gawang, ada 3 nama yang saling memperebutkan posisi kiper utama. Mereka adalah Paul Robinson, Jake Kean, dan Simon Eastwood. Musim lalu, 3 pemain ini silih berganti menjadi kiper utama di bawah mistar Rovers. Tapi Paul Robinson lah yang tampil lebih banyak dengan 21 kali, sementara Jake Kean dengan 18 kali, dan Simon Eastwood 7 kali. Persaingan kiper untuk musim ini dipastikan akan ketat seperti musim lalu. Namun untuk Simon Eastwood atau Jake Kean , mereka bisa dipinjamkan musim ini jika kesempatan bermain mereka sedikit dan Paul Robinson yang mempunyai kontrak tim utama bermain baik di musim ini.

Di lini belakang, pemain yang vital dalam pertahanan Rovers adalah Grant Hanley yang menjadi  kapten tim. Bek Internasional Skotlandia ini di plot menjadi Ball Playing Defender dan bisa juga menjadi Wing Back. Musim lalu, Hanley tercatat 37 kali tampil di liga dan 2 kali tampil di FA Cup  dengan raihan 1 gol. Hanley adalah tipikal pemain keras, terbukti musim lalu mengoleksi 8 kartu kuning dan 2 kartu merah. Tapi, Hanley memiliki rating bagus dalam hal mengantisipasi penyerangan lawan. Terbukti 89 interception dilakukannya dalam semusim dan paling banyak dari pemain-pemain Rovers lain


Jason Lowe, poros permainan Blackburn
Lini tengah Rovers diisi oleh pemain-pemain transisi atau pemain-pemain fleksibel. Tapi yang paling banyak tampil dan memiliki rating tinggi hanya seorang Jason Lowe. Lowe adalah salah satu hasil dari didikan asli Rovers. Lowe di plot menjadi gelandang bertahan dan pengangkut air. Lowe biasa bergerak di tengah dan sering dipasangkan dengan Lee Williamson. Di sisi sayap, Rovers punya banyak pilihan seperti Joshua King, Chris Taylor, Corry Evans, Ruben Rochina di sisi kanan, dan Craig Conway, David Dunn Ben Marshall , Luke Varney dan Tom Cairney disisi kiri. Tapi yang paling menonjol adalah Josh King yang memliki kecepatan, teknik, dan pergerakan yang sering menyulitkan bek-bek lawan.

Di lini depan, ada nama-nama menyeramkan yang patut diberi tanda ++ . Ada nama Jordan Rhodes dengan 51 gol dalam 2 musim terakhir , Rudy Gestede 13 gol dalam kurun waktu 6 bulan terakhir , Chris Brown yang baru didatangkan dari Doncaster Rovers, dan nama muda terbaru yaitu Dean Rittenberg yang bermain untuk Inggris U-18. Jordan Rhodes dan Rudy Gestede adalah duet andalan Bowyer dalam 6 bulan terakhir. Rhodes yang di plot sebagai Poacher / Target Man dan Rudy Gestede di Plot sebagai Deep Lying Forward / False Nine / Complete Forward. 


Gaffer

Gary Bowyer, produk akademi Westfields ini seakan tidak memiliki rumah saat ia aktif bermain. Ia akhirnya memutuskan untuk pensiun setelah hanya 9 tahun menjadi pemain professional. Bowyer akhirnya menemukan tempat dimana ia diterima bersama Blackburn Rovers. Setelah menjadi manager tim reserves pada tahun 2008, Bowyer ditunjuk menjadi pengganti Henning Berg pada tahun 2012. Bowyer kembali dipercaya menjadi caretaker pada Maret tahun lalu sebelum akhirnya diangkat menjadi permanen di bulan May 2013. Selama ini hasil yang diraih Bowyer masih belum konsisten, baik sebagai caretaker ataupun manager permanen. Musim ini, Bowyer harus menunjukan performa terbaiknya jika tidak ingin 'ditendang dari rumah'.

Akankah Rhodes ke Premier League musim depan
Verdict

Target promosi yang diutarakan Venky menjadi beban cukup berat bagi Bowyer. Dari kedalaman skuad, lini belakang lah yang sangat lemah di musim lalu. Terbukti kebobolan 62 gol musim lalu menjadi PR besar bagi Bowyer. Banyak kalangan dari fans , dan komunitas  meminta Bowyer mendatangkan 2 bek lagi untuk menambah kekuatan lini belakang. Sepertinya Bowyer akan menyimpan Transfer Budgetnya musim panas ini dan mendatangkan beberapa pemain di musim dingin nanti. Target juara sudah pantas bagi Rovers musim ini!




Preview Championship 2014 / 2015: REVOLUTION !! ( Nottingham Forest )

Background


Finis di posisi 11 musim lalu untuk Forest merupakan anti-klimaks setelah 2 setengah bulan tak terkalahkan di awal musim yang membuat penggemar optimis saat tahun berganti dari 2013 ke 2014 ,lalu terjadilah bencana.12 pertandingan tanpa kemenangan membuat pendukung kembali dihempaskan ke tanah setelah bermimpi. Dengan skuad yang kuat ,anda hanya dapat menyimpulkan Billy Davies underachieved musim lalu. Hubungan berapi-api dengan hampir semua orang (tapi kebanyakan media) membuat 'King Billy' semakin tertekan ketika akhirnya ia dipecat pada akhir Maret, membuat Gary Brazil menjadi caretaker hingga akhir musim. Namun,lupakanlah hal itu.. Musim baru telah datang bersama dengan kembalinya Stuart Pearce sebagai manager.

Transfer 

Danny Fox bergabung dari Southampton dan striker Matty Fryatt juga bergabung dengan klub dari Hull yang menambah pengalaman dari EPL buat skuad Forest. Darah muda juga berdatangan lewat bek Roger Riera yang merupakan kapten Barcelona U-19 serta striker Lars Veldwijck yang membawa raihan 30 gol musim lalu bersama Excelsior ditambah dengan skuad. Namun yang paling ciamik hingga saat ini adalah Pearce membawa Britt Assombalonga dari Peterborough yang merupakan top-skor League One musim lalu dengan 33 gol.

Mungkin usaha terbesar Forest musim panas ini adalah apakah mereka mampu atau tidak mempertahankan bintang muda Jamaal Lascelles dan Karl Darlow, yang digoda pindah ke Premier League. Arsenal serta Newcastle dikabarkan mengawasi perkembangan Darlow dan Manchester City, Chelsea dan Spurs tertarik memboyong Lascelles.

Striker Matt Derbyshire pindah ke tim yang baru promosi ke Championship, Rotherham United serta Radoslaw Majewski yang dipinjamkan ke Huddersfield Town.Dan saat tulisan ini dibuat striker Simon Cox resmi cabut ke Reading dari Forest.

Key Player

Tugasnya untuk memimpin skuad muda Forest.
Lascelles dan Darlow bisa saja dianggap pemain terbaik Forest setelah musim lalu yang fantastis dari mereka di Championship. Kedua bintang muda jelas melakukan hal luar biasa hingga menarik minat Premier League. Solid-nya Lascelles di belakang serta ketenangan Darlow menahan tembakan lawan di bawah mistar gawang Darlow dan Lascelles merupakan kombinasi sempurna untuk Forest, dan dengan mereka tumbuh sepanjang waktu. Kepindahan mereka ke klub besar semakin lama akan semakin sulit ditahan oleh Forest.

Namun tunggu dulu..

Sosok terpenting sekarang di Forest adalah Andy Reid. Pemain terbaik klub musim tahun lalu yang menyeret Forest hingga menyelesaikan akhir musim. Memiliki kemampuan kaki kiri yang luar biasa, hanya saja kebugarannya tidak menjadi masalah. Jika bisa menjaga agar bebas cedera musim ini, dengan pengalamannya kapten berumur 32 tahun ini bisa memimpin Forest untuk promosi.

Gaffer 

Return of "Pyscho"
Jika seorang pria tahu Forest luar-dalam dengan baik, maka dia adalah Stuart Pearce. Setelah 401 penampilan untuk klub dengan raihan 63 gol, ia menikmati periode 12 tahun penuh kesuksesan di City Ground ( yang berganti nama musim ini menjadi Kuwait City Ground Stadium ). Bersama Forest, Pearce memenangkan Piala Liga dua kali lewat penampilan heroiknya. Waktunya dihabiskan di klub ini sehingga dia tahu betapa pentingnya untuk membuat Forest bermain sepakbola yang sesuai style mereka guna meraih kemenangan. Bukan untuk para pemain, tetapi untuk para penggemar. Pearce dianggap berhasil di Manchester City ( sebelum kedatangan pemilik kaya ) dan hampir membawa mereka stabil di EPL. Pearce juga senang bekerja dengan pemain muda, ditunjukkan lewat pergerakan transfer Forest setelah sebelumnya dia menjabat sebagai manager Inggris U-21. Namun ,tugas berat sudah menunggunya sekarang, ia harus bisa membawa Forest promosi.

Verdict 

Playoff menjadi target yang dicanangkan Forest musim ini setelah tergelincir musim lalu.Akan tetapi, jika bisa meraih promosi otomatis dengan skuad yang ada dan manager yang mumpuni, kenapa tidak ?

By : @Obinhartono1 

Preview Championship 2014 / 2015: Saatnya Pelampiasan ( Brighton & Hove Albion )

Background

Brighton & Hove Albion sudah menjadi kuda hitam sejak mereka berhasil promosi ke Championship pada 2011 / 2012. Musim pertama mereka akhiri dengan menyelsaikan perjuangan di posisi 10 klasemen, musim berikutnya Brighton & Hove Albion berhasil mendapatkan tiket playoff setelah meraih 75 point, terpaut 4 point dari Hull City yang promosi otomatis secara runner-up. 2013 / 2014, merupakan musim ketiga Brighton di Championship dan Andrew Crofts bersama kolega kembali ke zona playoff, walaupun pencapaian mereka lebih buruk dari musim sebelumnya, yaitu berada di posisi 6 dengan 72 poin.

Mengawali musim 2013 / 2014 dengan buruk, Brighton tidak dapat beranjak dari papan tengah dan jauh dari target mereka mengulang kesuksesan musim sebelumnya. Nama Oscar Garcia, pelatih Brighton saat itupun beberapa kali dirumorkan akan dipaksa hengkang oleh direksi klub, namun hal tersebut hanya kabar burung belaka. Brighton tetap mempercayakan Garcia, dan mantan pemain FC Barcelona tersebut berhasil membayar kepercayaan yang diberikan kepadanya. Kemenangan tipis 1-0 melawan Blackpool sebelum tahun baru 2014 menjadi titik balik Brighton. Semenjak saat itu pasukan Oscar Garcia hanya menelan 6 kekalahan dari 23 pertandingan hingga akhir musim.

Garcia tuntaskan target sebelum berpisah


37 poin yang mereka kumpulkan sepanjang tahun memenuhi syarat untuk kembali berlaga di playoff. 3 poin terakhir melawan Nottingham Forest menjadi penentu dramatis, saat itu Brighton tertinggal terlebih dahulu sebelum gol Stephen Ward menyamakan kedudukan di menit ke-53, satu poin belum cukup untuk mendapatkan kesempatan berjuang untuk Premier League. Pasalnya, poin tersebut hanya akan menyetarakan mereka dengan Reading yang unggul produktifitas gol. CityGround akhirnya pecah di detik - detik akhir pertandingan. Leonardo Ulloa memastikan 3 poin untuk The Seagulls pada menit ke-92 dan mencuri tiket playoff dari Reading.

Perjuangan mereka terhenti di semi-final playoff setelah ditumbangkan Derby County. Musim ini, Brighton & Hove Albion kehilangan dua pahlawan mereka, Ulloa hijrah ke Premier League bersama juara musim lalu Leicester City dan manager, Oscar Garcia yang mengundurkan diri dari jabatannya. Direksi Brighton menunjukan ambisi mereka dengan menunjuk Sami Hyypia, sosok yang pernah merasakan atmosfer Champions League, sebagai pemain ataupun pelatih.

Transfer

Sami Hyypia tidak banyak merubah komposisi tim untuk musim pertamanya melatih Brighton. Walaupun membuka pintu keluar untuk 10 orang pemain, termasuk Ulloa, Kuszczak, Upson dan Orlandi, mantan manager Bayer Leverkusen tersebut juga mendatangkan 5 pemain pengganti sejauh ini. Toko, gelandang andalan Grasshooper Zurich musim lalu didatangkan guna mengisi pos yang ditinggalkan David Lopez dan Orlandi. Bek berpengalaman, Aaron Hughes diplot menjadi pengganti Upson, David Stockdale akan gantikan Kuszczak di bawah mistar, dan Chris O'Grady, striker yang mencetak 15 gol bersama Barnsley musim lalu diharapkan bisa mengisi posisi Ulloa.

Key Players

Muda, cepat, bertenaga. Will Buckley
Will Buckley dan Kazenga LuaLua akan menjadi mimpi buruk pertahanan lawan, kecepatan tinggi ditambah teknik yang mumpuni menjadi jaminan Brighton akan diperkuat oleh permainan sisi yang menakutkan. Lini belakang akan dijaga kapten Gordon Greer dan Aaron Hughes, kedua sudah memiliki pengalaman yang lebih dari cukup untuk memastikan keamanan gawang Brighton, terutama lewat bola - bola udara. Craig Mackail-Smith akan berjuang untuk kembali mendapatkan tempat di tim utama setelah musim lalu direbut oleh mantan penyerang Almeria, namun saingannya kali ini juga tidak mudah, yaitu seorang O'Grady.

Gaffer

Mantan assisten pelatih timnas Finlandia ini pernah bermain di Inggris untuk Liverpool, dimana ia memenangkan semua gelar yang ada (kecuali trophy Premier League). Pengalamannya selama 10 tahun bersama Liverpool sudah cukup untuk mempelajari dan memahami sepakbola di tanah Ratu Elizabeth. Karir kepelatihannya juga dapat dibilang mengesankan, melatih Bayer Leverkusen sejak May 2012, Hyypia membawa Leverkusen ke zona Champions League dengan menjadi satu - satunya pelatih yang berhasil mengarahkan anak asuhnya untuk mengalahkan Bayern Munchen di Allianz Arena pada musim 2012 - 2013.

Tak lagi terhalang bahasa
Hyypia dipecat dari kursi kepelatihan Bayer setelah kalah melawan Hamburg SV, namun ia adalah sosok pelatih yang dekat dengan para pemainnya. Hyypia sering kali berbincang dengan setiap pasukannya di Jerman meski dengan kemampuan bahasa Jerman yang terbata - bata. Kembali ke Inggris, komunikasi tentu bukanlah halangan untuk Sami Hyypia membangun chemistry dengan para pemain Brighton.

Verdict

Baik para pemain maupun pelatih, merupakan sekumpulan orang berpengalaman di bidangnya masing - masing. Jika mereka dapat mengawali musim ini dengan baik, bukan tidak mungkin Brighton akan promosi ke Premier League secara otomatis, walaupun zona playoff selalu menjadi target utama mereka.


BY: @adrieedu

Preview Championship 2014 / 2015: Bermimpi Bersama Mark Robins ( Huddersfield Town )

Background

Musim 2013 / 2014 cukuplah memuaskan untuk Huddersfield Town, mereka finish di posisi 17 klasemen akhir Championship, 9 poin lebih banyak dari Doncaster Rovers yang berada di zona degradasi. Dipimpin mantan pemain Manchester United, Mark Robins, yang ditunjuk sejak pertengahan 2012/2013, Huddersfield mulai memiliki fondasi yang kuat. The Terriers mengawali musim 2013 / 2014, dengan hanya menelan 2 kekalahan di 10 partai pertama. Hasil tersebut membawa mereka ke posisi 9 klasemen sementara, akan tetapi performa Adam Clayton dan kawan - kawan menurun pada bulan Oktober saat mereka hanya mendapatkan 4 dari 12 poin yang tersedia. Efeknya berimbas ke bulan - bulan berikutnya yang menghilangkan konsistensi dari permainan Huddersfield.

Brewok bukanlah faktor utama Clayton menjadi ikon klub


Beruntung Mark Robins memiliki gelandang - gelandang pekerja keras nan produktif untuk menghidupkan permainan dari lini kedua. Adam Clayton merupakan pemain yang memiliki peran sentral dalam mengangkat performa tim. Golnya ke gawang Wigan dan Birmingham menjadi suntikan moral tersendiri bagi para pemain yang sebelumnya baru saja merasakan 3 kekalahan beruntun melawan Nottingham Forest, Bournemouth dan Leeds. Kombinasi Clayton, Adam Hammil, Oliver Norwood, dan Danny Ward menyumbang 26 gol serta 28 assist untuk Huddersfield. Ward menjadi top skorer klub bersama James Vaughan dengan 10 gol, sedangkan Adam Hammil menjadi arsitek 12 gol Huddersfield.

Pemain - pemain tersebut ditambah kehadiran Nahki Wells dan Jonathan Hogg menjadikan Huddersfield sebagai salah satu klub yang memiliki tim dengan pemain yang merata dan mendalam.

Transfers

Mark Robins sangat serius menjadikan Hudderfield Town sebuah klub yang kompetitif di Championship dengan mendatangkan Conor Coady, Lee Peltier, Radoslaw Madjeski, dan Joe Murphy ke dalam squad-nya. Conor Coady menunjukan kualitasnya di League One bersama Sheffield United musim lalu dan 'dihadiahi' promosi oleh Robins. Peltier merupakan bek dengan penuh semangat dengan tackle keras guna menjaga daerahnya, ia juga sering kali membantu penyerangan dan berhasil mencetak 1 gol dari 25 penampilannya musim lalu bersama Leeds. Madjeski merupakan salah satu gelandang terbaik yang dimiliki Nottingham Forest beberapa tahun terakhir. Walaupun performanya sedang menurun, dengan sentuhan dingin Robins dan pelatih lainnya, Madjeski mungkin akan bangkit kembali.

Hanya Joe Murphy, kiper yang didatangkan dari Coventry City yang sepertinya memiliki peluang sangat kecil untuk diturunkan karena memiliki posisi yang sama dengan Alex Smithies, kiper 24 tahun yang sudah menjadi pilihan utama sejak pertama kali Huddersfield sejak mereka menginjakan kaki di Championship pada 2012 / 2013. Mark Robins tidak kelihangan satupun pemain krusial pada bursa transfer kali ini, nama Peter Clarke dan Keith Southern dilepas demi peremajaan squad, posisi keduanya juga sudah digantikan Anthony Gerrard dan Adam Clayton sejak musim lalu.

Key Players 

Wells cetak gol penting vs Millwall
Selain lini kedua yang sangat berjasa musim lalu, nama Nahki Wells yang baru bergabung Januari lalu juga diharapkan dapat menjadi mimpi buruk setiap lawan Huddersfield. Nama Wells mulai bersinar saat ia dan Bradford City berhasil menembus partai final Capital One Cup beberapa tahun lalu, dan dana 1.56 juta Poundsterling telah berbuah 7 gol dari 22 penampilannya. Bersama Vaughan, Wells diharapkan dapat menjadi solusi permasalahan lini depan Huddersfield Town.

Gaffer 

Mark Robins bukanlah nama yang asing ditelinga para penikmat Football League, Mark Robins telah malang melintang di dunia kepelatihan Inggris dengan melatih Rotherham United, Barnsley dan Coventry City. Walaupun pencapaian terbaiknya hingga saat ini hanyalah papan tengah liga, Pengalaman Robins sangatlah bermanfaat, ia tahu pemain yang dibutuhkan klub dan dapat memaksimalkan potensi - potensi pemain tersebut. Musim ini, Mark Robins telah memperkuat fondasi yang ia bentuk musim lalu, sebuah modal untuk memberanikan diri bermimpi untuk hal yang dianggap mustahil. 

Verdict 

Bermodalkan squad yang merata, dan penuh talenta. Huddersfield akan kembali memiliki musim yang solid dengan berada di 10 besar klasemen akhir Championship. Mereka akan menjadi tim perusak peta persaingan musim ini dan bukan tidak mungkin mengintip peluang untuk menuju playoff.


BY: @adrieedu

Thursday, August 7, 2014

Preview Championship 2014 / 2015: Perjalanan Mencari Jati Diri ( Charlton Athletic )

Background

Chartlon Athletic akan menjalani musim ketiganya di Championship setelah berhasil promosi dari League One pada tahun 2011/ 2012. Musim pertamanya kembali ke kasta kedua, Charlton Athletic berhasil mengakhiri kompetisi dengan finish di posisi 9, hanya terpaut tiga point dari zona playoff. Chris Powell yang juga berhasil membawa The Addicks promosi, merupakan sosok dibalik penampilan mengejutkan Charlton Athletic tersebut. Tanpa ragu, pihak klub setuju mempertahankan jasanya untuk kembali memimpin tim pada kompetisi 2013 / 2014, namun optimisme yang ada pada awal musim berubah menjadi kekecewaan setelah Powell gagal mempertahankan kualitas tim miliknya.

Powell kehilangan sentuhan magis
Charlton Athletic yang diharapkan dapat memantapkan posisi di papan tengah atas (7-12th) terjerumus ke papan bawah Championship dengan hanya meraih 10 kemenangan dan 10 hasil imbang, dari 37 pertandingan di segala ajang. Nasib buruk sudah menghampiri Chris Powell sejak musim 2013 / 2014 baru dimulai. Charlton memulai musim lalu dengan kekalahan melawan Bournemouth, dari 10 pertandingan pertama di Championship 2013 / 2014, Charlton Athletic menelan 5 kekalahan dan hanya meraih 9 dari 30 point yang pertaruhkan. Simon Church dan kolega-pun terdampar di posisi 19 klasemen sementara. Walaupun tampil buruk, termasuk puasa kemenangan selama 1 bulan ( September - Oktober 2013 ), Chris Powell tetap dipercaya untuk menangani tim utama. Kesabaran direksi klub akhirnya mencapai titik puncak saat Charlton Atheletic tersingkir dari Piala FA setelah tumbang 0-2 di tangan klub League One, Sheffield United pada 9 Maret 2013. Dua hari kemudian mantan bek kiri timnas Inggris tersebut resmi dipecat, meski performa tim di liga sedang membaik.

Mantan manager C.S Vise & Standard Liege, Jose Riga ditunjuk sebagai pengganti Powell. Performa tim dibawah Riga juga tidak mengalami peningkatan. Bertugas untuk mengangkat Charlton yang berada di ancaman degradasi di posisi 19, rasa panik semakin menjadi setelah satu bulan pertama kepemimpinan Jose Riga, Charlton semakin terpuruk dengan hanya satu tingkat di atas zona degradasi, karena hanya berhasil meraih 5 poin dari 5 pertandingan di bulan Maret.

Nasib Charlton baru dipastikan aman di akhir musim. Terbantu performa tim lain yang memburuk, 9 poin yang mereka raih melalui kemenangan melawan Blackpool, Sheffield Wednesday dan Yeovil Town pada 6 pertandingan terakhir kompetisi cukup membawa mereka ke posisi 18 klasemen akhir dengan raihan 51 point. Jasa Jose Riga tidak digunakan lagi, dan Charlton akan memulai musim baru di bawah komando Bob Peeters.

Transfer

Pada bursa transfer musim panas 2014, Bob Peeters mulai membangun squad-nya dari awal. Beberapa pemain kunci musim lalu seperti Ben Hamer dan Leon Cort, serta pemain potensial, Diego Poyet diizinkan Peeters untuk mencari klub lain. Sebagai penggantinya, Stephen Henderson, Tal Ben Haim, Franck Moussa, didatangkan untuk mengisi pos yang kosong. Peeters juga ingin meremajakan timnya dengan mendatangkan Igor Vetokele (Copenhagen), dan Zak Ansah (Arsenal) yang masih berusia dibawah 23 tahun. Total 12 pemain ia datangkan, termasuk 3 pemain muda binaan akademi Charlton yang dipercayakan untuk mengecap Championship 2014 / 2015.

Key Players

Striker timnas Belgia diharapkan dapat seperti seniornya
Johnnie Jackson, kapten Charlton Athletic yang musim lalu menyumbang 5 gol dan 5 assist akan dipercaya menjadi poros permainan The Addicks, dibantu oleh pendatang baru Franck Moussa, attacking midfielder yang merupakan salah satu pemain kunci Coventry City di League One musim lalu. Striker 22 tahun berdarah Angola, Igor Vetokele juga diharapkan memberikan pundi - pundi gol untuk Charlton Athletic. Dana yang dikeluarkan Charlton untuk Vetokele sama dengan saat mereka mendatangkan Marcus Bent dari Everton (05/06), dan sedikit dibawah biaya kepindahan Danny Murphy dari Liverpool semusim sebelumnya. Lini belakang yang kehilangan komando Ben Hamer dan Leon Cort akan mengandalkan Rhoys Wiggins sebagai pengatur tembok pertahanan. Wiggins yang bermain lebih dari 3.000 menit musim lalu telah menjadi pilihan utama sejak Charlton masih berada di League One.

Gaffer

Agent Peeters ?
Saat direksi Charlton Athletic mempercayakan seorang Bob Peeters menjadi manager, banyak meragukan kemampuan mantan pemain timnas Belgia ini.  Peeters yang baru memulai karir kepelatihannya pada 2010 bersama Cercle Brugge setelah gantung sepatu 2 tahun sebelumnya, belum pernah sekalipun merasakan kesuksesan yang signifikan. Selain itu, Peeters merupakan mantan pemain Millwall, rival dari Charlton Athletic. Pihak klub tidak mempedulikan koneksi tersebut, namun beban menjadi semakin berat untuk Sang pelatih. Charlton merupakan klub ke-4 Peeters hanya dalam waktu 4 tahun di dunia managerial. Menumbuhkan rasa percaya para supporter akan menjadi tugas utamanya musim ini.



Verdict 

Musim ini bisa jadi musim penentuan bagi Charlton Athletic apakah mereka layak menjadi klub Championship atau tidak. Konsistensi merupakan kunci utama, namun melihat kedalaman squad dan terlepas dari sosok Peeters adalah seorang agen dari Millwall untuk menyengsarakan rival mereka atau bukan, Charlton Athletic nampaknya akan menjadi salah satu tim yang harus berjuang sekuat tenaga menjauhi zona degradasi, dan berpeluang besar untuk kembali ke League One.


BY: @adrieedu

Preview Championship 2014 / 2015: Don't be Late, Latics! ( Wigan Athletic )

Background

Musim lalu dapat dikatakan cukup memuaskan bagi Wigan Athletic. Mengincar peluang untuk kembali ke Premier League sejak awal, Owen Coyle yang dipercayai menggantikan Roberto Martinez gagal menunjukan hasil positif dengan hanya meraih 7 kemenangan dari 23 pertandingan yang ia pimpin. Mantan manager Bolton Wanderers tersebut akhirnya dipecat pada bulan Desember. Uwe Rosler dipecaya untuk mengangkat performa Wigan, yang telah menelan 12 kekalahan hingga saat itu. Pria asal Jerman tersebut memulai debutnya menangani Wigan di kompetisi Europa League, hadiah dari menjuarai Piala FA 2012 / 2013. Saat itu Wigan takluk 2-1 dari Maribor dan gagal menembus babak selanjutnya.

Terdepaknya mereka dari kompetisi antar klub eropa tersebut menjadi berkah tersendiri, jadwal pertandingan berkurang, memberi waktu lebih untuk para pemain mempersiapkan diri menghadapi liga yang sudah memiliki jadwal padat. Rosler berhasil meraih 3 point pertamanya untuk Wigan saat menjamu Bolton Wanderers, kemenangan 3-2 di DW Stadium menjadi titik balik performa The Latics. Sejak saat itu, Callum McManaman dan kawan - kawan hanya menelan 2 kekalahan dan meraih 17 kemenangan dan 6 hasil imbang, termasuk kemenangan 2-1 melawan Manchester City di quarter final FA Cup.

Walaupun sering kali telat panas dan kehilangan poin melawan klub - klub dibawahnya, seperti saat imbang 3-3 melawan Yeovil Town, dan tumbang 3-0 melawan Doncaster Rovers, Uwe Rosler yang datang saat Wigan sedang berada di tangga ke-16 berhasil menuntaskan misi utama dengan mengakhiri musim di posisi 5 (zona playoff) klasemen.

Transfer


Kembali ke menimbah ilmu di Championship
Musim 2014 / 2015 Wigan Athletic akan terasa berbeda setelah playmaker asal Spanyol, Jordi Gomez hijrah ke Sunderland secara cuma - cuma, namun hal tersebut juga membuka pintu untuk Rowsler membangun dinasti baru. Ia meminjam jasa Emyr Huws, gelandang Manchester City yang tampil memukau bersama Birmingham City musim lalu, serta Don Cowie yang dilepas Cardiff. Kedua gelandang tersebut akan memberi tenaga lebih untuk memenangi perebutan bola di lapangan. Lini belakang kedatangan muka baru yaitu James Tavernier & Andrew Taylor menggantikan Mustoe, Buxton dan Crainey yang meninggalkan DW. Rowsler juga mendaratkan striker ternama La Liga, Oriol Riera yang meninggalkan Osasuna dengan biaya 2.2 juta Poundsterling.

Key Players

Sulit menentukan satu pemain paling menonjol dalam Wigan Athletic, karena mereka punya kemampuan merata di segala lini. Scott Carson dan Ali Al Habsi akan bergantian menjadi tembok terakhir, Caldwell & James Perch akan menggalang pertahanan solid mengigat Boyce sudah tidak muda lagi. Espinoza akan menjadi jendral lapangan tengah, disokong McManaman di sisi lapangan guna memanjakan Riera, Holt dan Waghorn yang berebut tempat utama.

Gaffer


Uwe Rosler yang memulai karir kepelatihannya di Norwegia bersama Lillestrom pada 2004 sempat mengantarkan klub tersebut menjadi runner-up Football Cup di tahun 2005 sebelum akhirnya hijrah ke Viking FK setahun berselang. Pencapaian terbaik Rowsler bersama Viking FK adalah saat klub tersebut mengakhiri tahun 2007 di posisi 3 klasemen. Klimaksnya adalah saat Rowsler menangani Brentford, ia berhasil mengantarkan The Bees ke final Football League Trophy walaupun akhirnya kalah melawan Carlisle United. Menjadi manager Wigan, Rowsler telah menunjukan kapasitasnya dengan pencapaian musim lalu, dimana The Latics hanya kalah 9 kali dari 37 laga tersisa. Tidak dapat dipungkiri lagi, Uwe Rowsler merupakan salah satu manager terbaik di Championship saat ini.

Verdict

Kedalaman squad yang mumpuni dan berpengalaman diracik oleh tangan dingin Uwe Rowsler ? Tidak ada yang lebih mengerikan dibanding Wigan Athletic di Championship 2014 / 2015. Asal bisa panas sejak awal mereka bisa menjadi Juara !

BY: @adrieedu

Preview Championship 2014 / 2015: Beranilah untuk Kembali Bermimpi ( Cardiff City )

Background

Musim 2013 / 2014 tentu menghasilkan kekecawaan mendalam di dalam tubuh klub Cardiff City. Baik dari Sang pemilik klub, direksi, manager, pemain, dan terutama supporter. Pada awalnya, mimpi yang telah mereka bangun sejak 2003 silam terstruktur begitu sempurna, dengan musim 2008 / 2009 menjadi pendorong semangat Cardiff City untuk berlaga di kasta tertinggi sepakbola Inggris. Saat itu, hanya selisih gol yang mengagalkan mereka merebut tiket playoff dari tangan Preston North End. Kegagalan tersebut seakan memberi pelajaran berarti bagi klub dan pada musim berikutnya, Cardiff City berhasil mengakhiri kompetisi di posisi 4 - zona playoff -. Musim 2009 / 2010, mereka kandas di final setelah kalah secara dramatis melawan Blackpool asuhan Ian Holloway.

Rasa sakit tersebut terus berlanjut hingga musim 2011 / 2012, kekalahan melawan West Ham United dengan agregat 5-0 menjadi kegagalan ketiga secara beruntun di playoff. Namun, bak sebuah lagu, "What that doesn't kill you, make you stroger", Cardiff City berhasil menjadi pemucak klasemen Championship 2012 / 2013 dengan raihan 87 point. Sial bagi mereka, saat impian mereka telah tergapai begitu banyak hal yang merusak keindahannya. Salah satunya adalah keputusan Vincent Tan, Sang pemilik klub untuk memecat Malky Mackay, pria yang telah berjasa membawa Cardiff ke Premier League, setelah hanya meraih 20 poin dari 20 pertandingan.

Alasan yang masuk akal dikemukakan oleh Tan, "Mackay telah menghabiskan banyak uang untuk membangun tim yang kompetitif, namun lihatlah hasilnya. Uang saya terbuang percuma". Mackay-pun digantikan oleh mantan striker Manchester United, Ole Gunnar Solksjaer, yang masuk setelah klub dibina seorang caretaker di dua pertandingan selepas kepergian Mackay. Pencapaian Ole juga tidak lebih baik dari pendahulunya, ia hanya berhasil mengemas 18 poin dari 21 pertandingan sebagai manager Cardiff.

Al hasil, Sang juara Championship 2012 / 2013 terpuruk di dasar klasemen, dan harus kembali membangun mimpi mereka di divisi dua Inggris.

Transfer 

Hijrahnya Steven Caulker dan Jordon Mutch ke QPR memberikan dana segar sebesar 15 juta Poundsterling. Hasil dari penjualan Fraizer Campbell ke Crystal Palace setara dengan harga Adam Le Fondre, Andrew Taylor juga memberi pemasukan yang tidak diketahui jumlahnya, sedangkan Don Cowie dilepas oleh Cardiff City. Ole Gunnar Solkjaer juga memberi kesempatan untuk Jo Inge Berget, anak buahnya yang dibawa dari Molde Januari lalu untuk belajar di Skotlandia bersama Celtic. Ben Nugent, Joe Lewis, Filip Kiss, dan Kevin McNaughton juga mendapatkan kebijakan serupa ke berbagai tim yang berbeda.

Setelah investasi 37 juta Poundsterling terbuang percuma musim lalu, Ole Gunnar Solksjaer dipaksa membangun tim dengan efisien. Sejauh ini pengeluaran Cardiff City masih dibawah 2 juta Poundsterling untuk merekrut 5 pemain  ( tidak termasuk Tom Adeyemi yang nilai transfernya dari Bimingham City tidak dipublikasikan), Guido Burgstaller didatangkan dari Rapid Wien dengan banderol 616 ribu, Adam Le Fondre dikabarkan mereka dapatkan dengan harga 1 juta Poundsterling dari Reading dan Federico Macheda, Javi Guerra, serta Kagisho Dikgacoi didapatkan secara cuma - cuma.

Key Players


Whittingham & Macheda dipercaya Ole Gunnar Solksjaer

Kehilangan poros permainan seperti Jordon Mutch dan Don Cowie akan memicu kebangkitan Peter Whittingham sebagai kunci permainan Cardiff. Whittingham yang sudah merasakan pahit dan manis bersama Cardiff City sejak 2007, menyumbangkan 3 gol dan 6 assist dalam 32 penampilannya di Premier League musim lalu. Total 63 gol, dan 54 assist telah ia berikan kepada Cardiff City di Championship, sungguh pengalaman yang akan sangat membantu. Selain Whittingham, sosok kiper David Marshall juga akan menjadi faktor penting Cardiff City untuk setidaknya meraih tiket playoff. Hanya Steven Caulker yang bermain lebih lama dibanding Marshall musim lalu, Cardiff juga mematok harga tinggi saat Marshall diminati oleh Arsenal, ini menjadi indikasi bagaimana Solksjaer menganggap David Marshall sebagai pemain kunci.

Nama Mats Moller Daehli dan Federico Macheda juga layak diperhatikan, mengingat Ole memiliki koneksi tertentu dengan keduanya, mereka dapat diberikan kesempatan untuk bersinar musim ini.

Gaffer

Siapa yang tidak mengenal "Baby-Faced Assasin" yang satu ini ? Nama Ole Gunnar Solksjaer sudah dikenal seluruh dunia sebagai salah satu striker terbaik di sepakbola saat ia masih aktif bermain. Kini, berada di pinggir lapangan, semua klub yang ia latih sudah pernah merasakan gelar juara. Molde diberikan 3 piala, sedangkan Manchester United Reserves telah mengangkat 4 piala bersama Solksjaer. Sekarang giliran Cardiff City yang ingin ia antarkan merasakan hal serupa.



Insting membunuh dibalik wajah Ole
   Verdict

Ada yang mengatakan "Pengalaman adalah guru terbaik", dan pengalaman Cardiff City sudah memiliki lebih dari cukup untuk mengarungi Championship. Jika semua sesuai rencana, mereka akan menjadi kandidat kuat untuk menjadi juara, atau minimal zona playoff. Musim 2014 / 2015 nampaknya akan menjadi perjalanan yang layak dikenang Cardiff City.





BY: @adrieedu